PaiNting The NiGHt

Sofensky's posts with tag: humanity

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntrySuci Yulianti dan Budaya JawaAug 29, '06 4:54 AM
for everyone
Liku-Liku Suci Yulianti Nguri-Nguri Budaya Jawa

Di saat banyak kaum ibu gandrung dengan musik dangdut atau lagu populer lainnya, Suci Yulianti, 48, justru asik dengan macapatan dan tetembangan Jawa lainnya. Bahkan rumahnya di bilangan Jalan Borobudur Utara Raya sering dijadikan tempat latihan berbau pelestarian budaya Jawa.

SOFIAN DS, Semarang

Di atas sebuah panggung besar di salah satu ruang pertunjukan di Museum Ronggowarsito, Baruklinting duduk termenung di pojok panggung. Beberapa saat kemudian, diiringi tetabuhan mirip kentongan, muncullah rombongan anak penggoda. Anak-anak ini mengejek tubuh dekil dan bau Baru Klinting yang diperankan oleh Sugeng, seniman senior ketoprak Semarang.

Meski digoda berbagai rupa Baruklinting tetap cuek. Baruklinting memilih duduk di tempatnya sampai rombongan anak-anak penggoda yang diperankan oleh para bocah SD itu berlalu dari tempatnya.

Sementara itu, duduk di barisan penonton, rombongan anak-anak SD sekecamatan Tugu tak kalah serius. Mereka berjumlah 1.200 anak ini dengan seksama mengamati pertunjukan ketoprak berlakon Baru Klinting yang digelar Duta Budaya dari Pesaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Kota Semarang.

Anak-anak SD ini, nampaknya paham betul dengan lakon Baruklinting yang ditontonnya. Seringkali mereka berbisik seputar ending cerita rakyat yang konon melegendakan tempat Rawa Pening itu. Anak-anak ini mengaku paham dengan lakon cerita seperti cerita kartun Dora ataupun Spongebob yang sedang booming itu.

Sementara itu, di salah satu deretan tempat duduk paling depan, Suci Yulianti, ketua Ketoprak Duta Budaya tak kalah serius mengamati penampilan para anak didiknya. Perempuan yang karib disapa Suci ini berkali-kali memeperhatikan polah tingkah pemeran ketoprak pimpinanya.

Radar Semarang sendiri baru bisa menemui Suci sekitar pukul 15.00. Selepas menghadiri rapat dengan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Suci menceitakan perjalanan kelompok seninya itu plus aktivitasnya sekarang kala nguri-nguri budaya Jawa.

Suci, memang terlahir dari lingkungan yang mengedepankan sisi kejawen. Namun, kala masih muda ia justru mengaku tidak sekalipun bergelut dengan dunia yang berbau-bau Jawa. Sejak SD hingga SLTA, atau sekitar 1960-an, Suci justru mengaku lebih gaul dengan dunia populer.

Tak terlintas sedikitpun untuk menggeluti khasanah budaya Jawa. "Waktu itu, Saya tidak njawani, bahkan sering pakai bahasa Indonesia," kata Suci.

Suci mengenal budaya Jawa justru kala almarhum bapaknya, H. Soedarsono Markum meninggal dunia. Orang tua Suci inilah yang konon menginginkan Suci untuk tidak melupakan seni budaya leluhurnya. Pada 1999, Suci baru tersadar dengan pesan ayahnya itu. Ia pun mulai melibatkan diri dalam setiap aktivitas budaya Jawa.

"Ketertarikan itu (dengan budaya Jawa) karena saya rindu dengan bapak. Makanya saya memilih terjun langsung ke dunia kesenian Jawa," papar Suci.

Sejenak masuk ke lingkungan seni budaya Jawa, karier Suci langsung melejit. Keseriusannya melibatkan diri dengan kesenian Jawa mengantarnya masuk ke jajaran pengurus berbagai oraganisai, seperti Permadani, Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) Jateng, Ketua Duta Budaya, hingga Ketua Persatuan Akhli Kecantikan dan Pengusaha Salon (Tiara) DPC Kota Semarang. Semua itu dilakukan Suci dalam misinya nguri-nguri budaya Jawa.

Tak hanya itu saja, rumahnya di bilangan Jalan Borobudur Utara, Manyaran, biasa dipakai oleh berbagai kalangan untuk berlatih kesenian. Macapatan atau latihan ketoprakan biasa dilakukan di rumah Suci. "Rumah saya selalu ramai," tutur Suci.

Suci mengatakan, meski budaya Jawa cnderung ditinggalkan oleh anak-anak muda, dirinya tetap optimistis kesenian Jawa akan langgeng. Menurutnya, tidak semua anak muda menghindar dari dunia seni berbau budaya Jawa. Jika anak-anak muda dibina dan ditangani dengan baik, Suci yakin anak-anak muda akan tertarik berkesenian.

"Anak-anak butuh media untuk mengenal kesenian Jawa. Selama ini mereka dicekoki oleh deretan budaya massa yang mengedepankan moderniasi, sementara budaya Jawa kurang," paparnya.

Suci menambahkan, pergelaran ketoprak untuk anak SD yang dilangsungkan selama dua hari kemarin itu bertujuan untuk membangkitkan kembali rasa cinta anak-anak kepada kesenian yang nyaris mati itu. "Saya ingin memadukan kesenian jawa kontemporer, biar tetap njawani dan tidak ketinggaan zaman. Semua itu biar anak-anak tetap suka," harapnya. (*)

5 mei 2005


Blog EntryMengenal siswi berprestasi Jawa Tengah 2006Aug 10, '06 4:24 AM
for everyone
Aldila, siswi berprestasi Jawa Tengah
Pengen Buat Novel dari Kumpulan Cerpen

Siswi SMP 2 Semarang ini kemarin terpilih sebagai siswi teladan tingkat Jawa Tengah 2006. Dalam seleksi yang digelar di LPMP Srondol beberapa hari lalu, Dila –panggilan akrab Aldila Dyas Nurfitri- berhasil menyisihkan puluhan pesaingnya dari 35 kabupaten dan kota se-Jateng.

SOFIAN DS, Semarang

Seorang lelaki duduk di teras rumah di Jalan Bangau 5/ 51 Perum Rumpun DIponegoro, Muktiharjo Semarang. Ditangannya terbentang koran sore yang baru saja datang. Sesekali ia balik lembar demi lembar untuk mencari berita yang bermutu. Hingga kemudian matanya yang senantiasa berkacamata itu terhenti pada sebuah berita yang memuat tentang anaknya, Aldila Dyas Nurfitri, 14. di dalam foto yang memuat gambar Dila, demikian anaknya disapa, nampak Dila sedang tersenyum sambil memegang piala besar. Ia terpilih sebagai siswi teladan tingkat Jawa Tengah yang digelar 10-12 Juli 2006 di LPMP Srondol Semarang.

Sore, sekitar pukul 16.00, koran ini mendatangi rumah bercat coklat krem itu. Begitu Radar Semarang datang, lelaki yang belakangan bernama Sujoni itu tergopoh-gopoh menghampiri. “Cari siapa?, Dila?, yang dari Radar Semarang itu ya?”Selidiknya.

Begitu Radar Semarang menyampaikan maksud kedatangannya, Sujoni yang bekerja sebagai serse di satuan Reskrim Jatanras, Polwiltabes itu langsung mempersilahkan duduk. “Silahkan, sudah ditunggu dari tadi, “katanya ramah.

Di kesatuannya, Sujoni berpangkat Aipda. Istrinya bernama Tanti Agusrini, ia juga seorang polisi tapi bertugas di Akpol. Pangkatnya lebih tinggi dari Sujoni, Tanti berpangkat AKP. Dari pasangan ini lahir dua orang anak. Anak pertama bernama Fahrul Rozi, dan anak kedua perempuan, mereka beri nama Aldila Dyas Nurfitri.

Sebentar duduk, yang dicari datang. Dila memperkenalkan diri. Mengenakan kaus hijau, dipadu dengan celana softjins warna biru, Dila nampak cantik dan tinggi. Kalau belum tau, orang susah menebak usia Dila hanya menilik dari tubuhnya yang bongsor. Dila masih 14 tahun, tapi tingginya sudah 164 cm. Cukup tinggi untuk anak yang baru menginjak kelas 9 SMP.

Dila lahir 26 Oktober 1991. Meski masih muda, jangan remehkan jika diajak diskusi. Gaya bicara boleh lugas, namun cerdas. Mau bicara soal apa saja, Dila mampu mengimbangi. Feminisme, Pendidikan, hingga soal budaya, Dela nampak mengusai betul. Maklumlah, Dila ini paling getol membaca buku-buku tentang apa saja. Bahkan, dengan berani, ia menulis karya tulis berjudul “Pilar Citra Feminisme diatas Emansipiasi Kartini” yang mengantarnya menjadi juara II Lomba Karya Ilmiah Remaja “Pahlawan NAsional RA Kartini” tingkat kota Semarang 2006 ini.

Dila memang cerdas, tak salah jika ia sering kali menjuarai beberapa karya tulis remaja yang ia ikuti. Dila getol menulis. Hobi ini sudah ia geluti sejak ia masih SD dulu. Menulis dan membaca, seolah menjadi salah satu menu wajib bagi dirinya. “Setiap liburan, saya selalu pergi ke Gramedia. Baca dan beli buku,”kata Dila.

Kebiasaan dari SD itu, berlanjut hingga sekarang. Dari membaca itulah, Dila mengaku mendapat banyak wacana. hingga kemudian isu-isu hangat yang menjadi topic belakangan ini, sudah ia kusai betul. “Kalau ada berita terbaru, Dila kadang tanya ke saya. Lha saya belum baca, ia sudah baca dulu,”kekeh Sujoni

Menilik prestasi Dila, tak salah jika ia terpilih sebagai siswi teladan. Karya tulis yang ia buat bertumpuk dan hampir semuanya menyabet juara. Belum lagi soal prestasinya di bidang extra sekolah maupun intra. Dila pernah memenangkan lomba cheerleaders di SMP 2, belum lagi di kegiatan intra, ia menjabat sebagai ketua osis periode 2005-2006 ini.

Sifat pemimpin, juga hinggap di diri Dila. Kedua orangtuanya yang seorang polisi, nampaknya membuat Dila bertanggung jawab terhadap kepribadiannya. Meski ia tak mendapat didikan disiplin yang ketat dari orangtuanya, Dila tahu diri dan selalu disiplin terhadap segala hal. Kepimpinannya itu lah yang kemudian menjadikan Dila sebagai seorang Ketua osis

Tak hanya itu, Dila ini ternyata juga pandai menyanyi, menari dan bermain musik. Rasa-rasanya, tak akan habis, jika tanya tentang hobi yang digelutinya saat ini. “Hobi saya banyak. Tapi yang paling saya suka ya membaca itu,”jelas Dila.

Saat ini, semua yang dimiliki gadis seperti DIla ini sudah tercapai. Ketua Osis, sudah ia jalankan dengan baik, menjdi jauara karya ilmiah, sering ia peroleh, dan yang paling diimpikan keluarga maupun Dila sendiri, yaitu menjadi SIswi Teladan, sudah ia rengkuh.

Meski demikian ada satu obsesi yang saat ini ia inginkan, membuat Novel. Ya, saat ini, Dila mengaku ingin membuat novel dari kumpulan cerpennya yang sudah ia simpan di hardisk computer di kamarnya.

Dila mengaku, saat ini sudah tiga cerpen ia buat. Belum ia publikasikan memang, namun, ia ingin, sewaktu-waktu ia publikasikan langsung dalam bentuk novel. Seperti Dewi “Dee” LEstari yang terkenal dengan Supernovanya itu. “Pengen banget bikin Novel, kan sekarang banyak perempuan yang menulis novel,”pungkas penggemar Pramodya Ananta Toer ini. (*)



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.